ASKEP CA LAMBUNG

Rabu, 19 Desember 2012


A.    KONSEP DASAR MEDIK

1.    Definisi
Kanker lambung adalah suatu keganasan yang terjadi dilambung, sebagian besar adalah dari jenis adenokarsinoma. Jenis kanker lambung lainnya adalah leiomiosarkoma (kanker otot polos) dan limfoma. Kanker lambung sering terjadi pada usia lanjut. Kurang dari 25% kanker tertentu terjadi pada orang dibawah usia 50 tahun (osteen, 2003).
Kanker lambung pada pria merupakan keganasan terbanyak ketiga setelah kanker paru dan kanker kolorektal, sedangkan pada wanita merupakan peringkat ke empat setelah kanker payudara, kanker serviks, dan kanker kolorektal (Christian, 1999).
Kanker lambung merupakan neoplasma maligna yang ditemukan di lambung, biasanya adenokarsinoma, meskipun mungkin merupakan limfoma malignansi. Diketahui bahwa kanker lambung 2 kali lebih umum terjadi pada pria daripada wanita. dan lebih sering terjadi pada klien yang mengalami anemia pernisiosa (Santacroce, 2008).
Dari beberapa defenisi diatas, dapat disimpulkan bahwa kanker lambung adalah neoplasma maligna yang terdapat dilambung yang sebagian besar merupakan jenis adenokarsinoma, dan sering terjadi pada usia lanjut.

Klasifikasi kanker lambung:
1.    Earlic gastric cancer. Berdasarkan hasil pemeriksaan radiologi, gastroskopi, dan pemeriksaan histopatologis dapat dibagi atas:
1.    Tipe I (protruded type). Tumor ganas yang menginvasi hanya terbatas pada mukosa dan submukosa yang berbentuk polipoid. Bentunya ireguler, permukaan tidak rata, perdarahan dengan atau tanpa ulserasi
2.    Tipe II (superficial type) dapat dibagi atas 3 sub tipe:
a.    Elevated type, tampak sedikit elevasi mukosa lambung, hampir seperti type I, terdapat sedikit elevasi serta dan lebih luas dan melebar,
b.    Flat type, tidak terlihat elevasi dan depresi pada mukosa dan hanya terlihat perubahan pada warna mukosa,
c.    Depressed type, didapatkan dipermukaan yang ireguler dan pinggir yang tidak rata (ireguler) hiperemesis/pendarahan.
3.    Type III (excavated type). Menyerupai Bormann II (tumor ganas lanjut) dan sering disertai kombinasi seperti IIC + III atau
 III + IIc dan IIa + IIc
2.    Advanced gastric cancer (karsinoma gaster lanjut). Menurut klasifikasi bormann dapat dibagi atas:
1.    Bentuknya berupa polipoid karsinoma yang sering juga disebut sebagai fungating dan mukosa disekitar tumor atrofi dan ireguler
2.    Bormann II. Merupakan  non infiltrating carcinomatous ulcer dengan tepi ulkus serta mukosa sekitarnya menonjol dan disertai nodular. Dasar ulkus terlihat nekrosis dengan warna kecoklatan, keabuan, dan merah kehitaman. Mukosa sekitar ulkus tampak sangat hiperemesis,
3.    Bormann III, Berupa infaltring carcinomatous ulcer, ulkusnya mempunyai dinding dan terlihat adanya infiltrasi progresif dan difus,
4.    Bormann IV. Berupa bentuk diffus infiltrating type, tidak terlihat batas tegas pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa.

2.    Anatomi fisiologi

Lambung terletak dibagian kiri atas abdomen tepat dibawah diafragma. Secara anatomis lambung terbagi atas fundus, badan, dan antrum pilorikum atau pilorus. Sebelah kanan lambung terdapat cekungan kurvatura minor dan bagian kiri bawah lambung terdapat kurvatura mayor.
Kapasitas normal lambung sebesar 1-2 L (Lewis, 2000). Volume lambung akan meningkat pada saat makan, dan menurun pada saat cairan lambung (kimus) masuk ke dalam usus halus. Pada saat lambung menglami relaksasi (kosong), mukosa masuk ke dalam lipatan yang disebut rugae. Rugae merupakan tempat sementara dari pembesaran lambung. Pada saat lambung di isi, maka rugae menyempit dan pada saat lambung penuh maka rugae menghilang (simon, 2003).
Sfingter pada kedua ujung lambung mengatur pengeluaran dan pemasukan. Sfingter kardia atau sfingter esofagus bawah, mengalirkan makanan masuk ke dalam lambung dan mencegah refluks isi lambung memasuki esofagus kembali. Di saat sfingter pilorikum berelaksasi, makanan masuk ke dalam duodenum dan ketika berkontraksi, sfingter ini akan mencegah terjadinya aliran balik isi usus halus ke dalam lambung. Sfingter pilorus memiliki arti klinis yang penting karena dapat mengalami stenosis (penyempitan pilorus yang menyumbat) sebagai komplikasi dari penyakit tukak lambung. Stenosis pilorus  atau pilorospasme terjadi bila serat-serat otot di sekelilingnya mengalami hipertrofi atau spasme sehingga sfingter gagal berelaksasi untuk mengalirkan makanan dari lambung ke dalam duodenum.
Tidak seperti pada daerah gastrointestinal lain, bagian otot-otot lambung tersusun dari tiga lapis dan buka dua lapis otot polos:
1.         Lapisan longitudinal dibagian luar
2.         Lapisan sirkulasi di tengah
3.         Lapisan oblik di bagian dalam
Susunan saraf otot yang unik akan memungkinkan berbagai macam kombinasi kontraksi yang akan diperlukan untuk memecahkan makanan menjadi partikel-partikel yang kecil, mengaduk dan mencampur makanan tersebut dengan cairan lambung, lalu mendorongnya ke arah duodenum.
Persarafan lambung sepenuhnya otonom. Suplai saraf parasimpatis untuk lambung dan duodenum di hantarkan ke dan dari abdomen melalui saraf vagus. Trunkus vagus mencabangkan ramus gastrik, pilorik, hepatik, dan seliaka. Persarafan simpatis adalah melalui saraf splanknikus mayor dan ganglia seliakum. Serabut-serabut aferan menghantarkan impuls nyeri yang dirangsang oleh perengangan, kontraksi otot, dan peradangan, serta dirasakan didaerah epigastrium. Serabut-serabut aferen simpatis menghambat pergerakan dan sekresi lambung. Pleksus saraf mesenterikus (Auerbach) dan submukosa (Meissner) membentuk persarafan intrinsik dinding lambung dan mengoordinasi aktivitas motorik dan sekresi mukosa lambung.
Seluruh suplai darah dilambung dan pankreas (serta hati, empedu, dan limpa) terutama berasal dari arteri seliaka atau trunkus seliakus, yang mempercabangkan cabang-cabang yang menyuplai kurvatura minor dan mayor. Dua cabang arteri yang mmperdarahi yaitu arteri gastroduodenalis dan arteri pankreatikoduodenalis (retroduodenalis) yang berjalan sepanjang bulbus posterior duodenum. Tukak dinding posterior duodenum dapat mengerosi arteri ini dan menyebabkan perdarahan. Darah vena dari lambung dan duodenum , serta yang berasal dari pankreas, limpa dan bagian lain saluran cerna, berjalan ke hati melalui vena porta.



Fungsi lambung:
Lambung menampung makanan yang masuk melalui esophagus, menghancurkan makanan dengan gerakan peristaltik lambung dan getah lambung dan getah lambung. Penghancuran makanan dilakukan dengan dua cara:
a.    Mekanis : menyimpan, mencampur dengan sekret lambung dan mengeluarkan kimus ke dalam usus. Pendorongan makanan terjadi seacara gerakan periistaltik setiap 20 detik.
b.    Kimiawi : bolus dalam lambung akan dicampur dengan asam lambung dan enzim enzim tergantung jenis makanan enzim yang dihasilkan antara lain pepsin asam garam,renin dan lapisan lambung.
1.    Pepsin, memecah putih telur menjadi asam amino (albumin dan pepton) agar dapat diabsorbsi di intestinum minor.
2.    Asam garam (HCL) mengasamkan makanan sebagai antiseptik dan disenfektan yang masuk kedalam makanan. Disamping itu mengubah pepsinogen menjadi pepsin dalam suasana asam.
3.    Renin, sebagai ragi pembekuan susu dan membetuk kasein dab kaseinogen dari protein.
4.    Lapisan lambung memecah lemak menjadi asam lemak untuk merangsang sekresi getah lambung.
Sekresi getah lambung mulai terjadi pada awal orang makan apabila melihat,mencium,merasakan makanan maka sekresi lambung akan terangsang, karena pengaruh saraf sehingga menimbulkan rangsangan kimiawi yang menyebabkan dinding lambumg melepaskan hormon yang disebut sekresi getah lambung mengalami 3 fase yaitu:
a.    Fase serebral
Antisipasi dari makan menyebabkan stimulus merambat ke otak ke nervus vagus sampai kelambung yang merupakan kelenjar yang terstimulasi untuk mensekresi hormon gastrin yang disekresi oleh membran mukosa kanalis pylorus yang menghsilkan getah lambung
b.    Fase gatric
Pada fase ini gastrin lebih banyak diproduksi.
c.    Fase intestinal
Masuknya darah ke dalam intestinum menyebabkan sekresi getah lambung membentuk lebih banyak gastrin.

3.    Etiologi
Penyebab pasti dari kanker lambung belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan perkembangan kanker lambung, meliputi hal- hal sebagai berikut:
                        Faktor predisposisi
1.    Faktor genetik. Sekitar 10% pasien yang mengalami  kanker lambung memiliki hubungan genetik. Walaupun masih belum sepenuhnya dipahami, tetapi adanya mutasi dari gen E-cadherin terdeteksi pada 50% tipe kanker lambung. Adanya riwayat keluarga anemia pernisiosa dan polip adenomatus juga dihubungkan dengan kondisi genetik pada kanker lambung (Bresciani, 2003).
2.    Faktor umur. Pada kasus ini ditemukan lebih umum terjadi pada usia 50-70 tahun, tetapi sekitar 5 % pasien kanker lambung berusia kurang dari 35 tahun dan 1 % kurang dari 30 tahun (Neugut, 1996).
Faktor presipitasi
1.    Konsumsi makanan yang diasinkan, diasap, atau yang diawetkan. Beberapa studi menjelaskan intake diet dari makanan yang diasinkan menjadi faktor utama peningkatan kanker lambung. Sehingga menfasilitasi konversi golongan nitrat menjadicarcinogenic nitrosamines didalam lambung. Kondisi terlambatnya pengosongan asam lambung dan peningkatan komposisinitrosamines didalam lambung memberikan konstribusi terbentuknya kanker lambung (Yarbro, 2005).
2.    Infeksi H. Pylori. H. Pylori adalah bakteri penyebab lebih dari 90% ulkus doudenum dan 80% tukak lambung (fuccio, 2007). Bakteri ini menempel dipermukaan dalam tukak lambung melalui interaksi antara membran bakteri lektin dan oligosakarida spesifik dari glikoprotein membran sel-sel epitel lambung (fuccio, 2009). Mekanisme utama bakteri ini dalam menginisiasi pembentukan luka adalah melalui produksi racun VacA. Racun VacA bekerja dalam menghancurkan keutuhan sel-sel tepi lambung melalui berbagai cara; diantaranya melalui pengubahan fungsi endolisosom, peningkatan permeabilitas sel, pembentukan pori dalam membran plasma, atau apoptosis (pengaktifan bunuh diri sel). Pada beberapa individu, H. Pylori juga menginfeksi bagian badan lambung. Bila kondisi ini sering terjadi, maka akan menghasilkan peradangan yang lebih luas yang tidak hanya memengaruhi ulkus didaerah badan lambung, tetapi juga meningkatkan risiko kanker lambung. Peradangan dilendir lambung juga merupakan faktor risiko tipe khusus tumor limfa (lymphatic neoplasm) dilambung, atau disebut dengan limfoma MALT (Mucosa Lymphoid Tissue). Infeksi H. Pylori berperan penting dalam menjaga kelangsungan tumor dengan menyebabkan dinding atrofi dan perubahan metaplastik pada dinding lambung (santacroce, 2008).
3.    Mengkonsumsi rokok dan alkohol. Pasien dengan konsumsi rokok lebih dari 30 batang sehari dan kombinasi dengan konsumsi alkohol kronik akan meningkatkan risiko kanker lambung (Gonzalez, 2003).
4.    NSAIDs. Inflamasi polip lambung bisa terjadi pada pasien yang mengkonsumsi NSAIDs dalam jangka waktu yang lama dalam hal ini (polip lambung) dapat menjadi prekursor kanker lambung. Kondisi polip lambung berulang akan meningkatkan risiko kanker lambung (Houghton, 2006).
5.    Anemia pernisiosa. Kondisi ini merupakan penyakit kronis dengan kegagalan absorpsi kobalamin (vitamin B12), disebabkan oleh kurangnya faktor instrinsik sekresi lambung, kombinasi anemia pernisiosa dengan infeksi H. Pylori memberikan konstribusi penting terbentuknya tumorigenesis pada dinding lambung (Santacroce, 2008).


4.    Patofisologi
Seperti pada umumnya tumor ganas ditempat lain penyebab tumor gaster juga belum diketahui secara pasti. Faktor yang mempermudah timbulnya. Tumor ganas gaster adalah perubahan mukosa yang abnormal antara lain seperti gastritis atropik, polip di gaster, dan anemia pernisiosa. Disamping itu juga pengaruh keadaan lingkungan mungkin memegang peran penting.
Kebanyakan kanker gaster adalah adenokarsinoma (90-95%). Yang lain limfoma, leimiosarkoma, adenoxanthoma, karsinoid dan sarkoma, adenokarsinoma lambung terdiri dari dua type, yaitu tipe intestinal (tipe struktur glandular) dan tipe difus (tipe infiltratif pada dinding lambung). Kebanyakan lokasi tumor pada daerah antropilorik, kuravtura minor lebih sering daripada kurvatura mayor.
Karsinoma gaster berasal dari perubahan epitel pada membran mukosa gaster yang berkembang pada bagian bawah gaster, sedangkan pada atrofi gaster didapatkan bagian atas gaster dan secara multisenter. Karsinoma gaster terlihat beberapa bentuk:
1.    Seperempatnya berasal dari propria yang berbentuk fungating yang tumbuh ke lumen sebagai massa.
2.    Seperempatnya berbentuk tumor yang berulserasi.
3.    Massa yang tumbuh melalui dinding menginvasi lapisan otot.
4.    Penyebarannya melalui dinding yang disemari penyebaran pada permukaan.
5.    Bentuk linisplatika.
6.    Sepertiganya karsinoma berbagai bentuk di atas.
Dengan adanya kanker lambung, lesi tersebut akan menginvasi muskularis propia dan akan melakukan metastasis pada kelenjar getah bening regional. Lesi pada kanker lambung memberikan berbagai macam keluhan yang timbul, gangguan dapat dirasakan pada pasien biasanya jika sudah pada fase progresif, dimana berbagai kondisi akan muncul seperti dispepsia, anoreksia, penurunan BB, nyeri abdomen,konstipasi, anemia, mual serta muntah. Kondisi ini akan memberikan berbagai masalah keperawatan.

5.    Manifestasi klinik       
Gejala awal dari kanker lambung sering tidak pasti karena kebanyakan tumor ini dimulai di kurvatura kecil, yang hanya sedikit menyebabkan gangguan fungsi lambung, gejala mungkin tidak ada. Beberapa penilitian telah menunjukkan bahwa gejala awal yang hilang dengan antasida, dapat menyerupai gejala pada pasien dengan ulkus benigna. Gejala penyakit progresif dapat meliputi
a.    Nyeri
b.    Penurunan berat badan
c.    Muntah
d.    Anoreksia
e.    Disfagia
f.     Kelemahan
g.    Hematemesis
h.    Mudah kenyang
i.      Darah yang nyata atau samar dalam tinja

Prognosis dan stadium

Prognosis kanker lambung disesuaikan dengan stadiumnya. Penilaian untuk menentukan stadium kanker lambung dilakukan dengan menggunakan sistem TNM yang telah diserapkan (Hassan, 2009).  Tabel berikut menggambarkan stadium patologis dari kanker lambung, dengan menggunakan penilaian sistem TNM.

Stadium kanker lambung dengan menggunakan sistem TNM.
Tumor Primer
(T)
Kelenjar Getah Bening (KGB)
Regional (N)
Metastasis Jauh
(M)
Tis
Carcinoma in situ, tumor intraepitel
N0
Kelenjar getah bening regional tidak terlibat
M0
Tidak ada metastasis jauh
T1
Ekstensi tumor ke submukosa.
N1
Metastasis pada 1-6 nodus limfe regional
M1
Ada metastasis jauh.
T2
Ekstensi tumor ke propia muskular dan serosa
N2
Metastasis pada 7-15 nodus limfe regional

T3
Penetrasi serosa
N3
Metastasis pada >15 nodus limfe regional
T4
Invasi ke struktur sekitar


(Greene FL, Compton CC, Fritz AJ, et al. AJCC Cancer Staging Manual, 6th ed. 2002)

Pengelompokkan stadium dan prediksi bertahan hidup
Stadium
TNM
Bertahan hidup setelah
Stadium I
T1
N0
M0
88%
Stadium II
T1
N2
M0
65%
T2
N1
M0
T3
N0
M0
Satdium III a
T2
N2
M0
35%
T3
N1
M0
T4
N0
M0
Satdium III b
T3
N2
M0
35%
Stadium IV
T4
N1-3
M0
35%
Setiap T
N3
M0
Setiap T
N3
M1
(Greene FL, Compton CC, Fritz AJ, et al. AJCC Cancer Staging Manual. 6th ed. 2002)


6.    Pemeriksaan diagnostik

1.    Pemeriksaan fisis, pemeriksaan fisis dapat membantu diagnosis berupa berat badan menurun dan anemia. Didaerah epigastrium mungkin ditemukan suatu massa dan jika telah terjadi metastasis ke hati,teraba hati hati yang ireguler, dan kadang kadang kelenjar limfe klavikula teraba.
2.    CT Scan.
Pemeriksaan CT Scan ini dilakukan sebagai evaluasi praoperatif dan untuk melihat stadium dengan sistem TNM dan penyebaran ekstra lambung, yang penting untuk penentuan intervensi bedah radikal dan pemberian informasi prabedah pada pasien.
3.    Endoskopi dan biopsi.
Pada pemeriksaan endoskopi dan biopsi sangat penting untuk mendiagnosis karsinoma lambung, terutama untuk membedakan antara karsinoma epidermal dan adenokarsinoma. Paling tidak diperlukan beberapa tindakan biopsi, karena kemungkinan terjadi penyebaran ke submukosa dan adanya kecendrungan tertutupnya karsinoma epidermal oleh sel epitel skuamus yang normal.
4.    Pemeriksaan darah pada tinja.
Pada tumor ganas gaster sering didaptkan perdarahan dalam tinja (occult blood), untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan tes benzidin.
5.    sitologi
pemeriksaan papanicolao dari cairan lambung dapat memasukkan tumor ganas lambung dengan hasil 80-90%. Tentu pemeriksaan ini perlu dilengkapi dengan pemeriksaan gastroskopi dan biopsi

7.    Komplikasi
1.    Perforasi
Dapat terjadi perforasi akut dan perforasi kronik.
2.    Hematemesis
Hematemesis yang masif dan melena dapat terjadi pada tumor ganas lambung sehingga dapat menimbulkan anemia.
3.    Obstruksi
Dapat terjadi pada bagian bawah lambung dekat daerah pilorus yang disertai keluhan muntah muntah.
4.    Adhesi
Jika tumor mengenai dinding lambung dapat terjadi perlengketan dan infiltrasi dengan organ sekitarnya dan menimbulkan keluhan nyeri perut.

8.    Penatalaksanaan Medik

Penatalaksaan medis disesuaikan dengan penentuan stadium (staging) dan pengelompokkan stadium tumor. Intervensi yang lazim dilakukan adalah tindakan endoskopi,kemoterapi,radioterapi,dan intervensi bedah.
Pada polip lambung jinak, diangkat dengan menggunakan endoskopi. Bila karsinoma ditemukan di dalam lambung, pembedahan biasanya dilakukan untuk mencoba menyembuhkannya. Sebagian besar atau semua lambung diangkat (gastrektomi) dan kelenjar getah bening di dekatnya juga ikut diangkat. Bila karsinoma telah menyebar ke luar lambung, tujuan pengobatan yang dilakukan adalah untuk mengurangi gejala dan memperpanjang harapan hidup pasien. Kemoterapi dan terapi penyinaran pada limfoma lebih pada karsinoma. Beberapa pasien dengan tingkat toleransi yang baik akan bertahan hidup lebih lama bahkan bisa sembuh total

B.    KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A.    Pengkajian
1.    Kaji riwayat diet klien, seperti masukan makanan asap, diasinkan masukan buah dan sayuran yang rendah.
2.    Kaji rasa tidak nyaman pada epigastrium, tidak dapat makan, dan perasaan kembung setelah makan. Jika ya sudah berapa lama dan upaya pengobatan apa yang telah dilakukan, apakah sudah berobat ke dokter atau minum obat yang dijual bebas.
3.    Kaji adanya gejala nyeri abdomen, nyeri punggung, anemia, anoreksia, mual, muntah, cepat kenyang, disfagia, dan malaise serta hematemesis.
4.    Kaji adanya penurunan berat badan, sejak kapan dan berapa kg penurunan berat badan sejak sakit.
5.    Kaji apakah kalian merokok, berapa banyak dalam sehari, sejak kapan, dan selama atau setelah merokok, apakah mengalami ketidaknyamanan pada lambung.
6.    Kaji apakah klien minum alkohol, berapa banyak dalam sehari dan sejak kapan.
7.    Kaji anggota keluarga ada yang menderita penyakit kanker, jika ada apakah anggota keluarga langsung, keluarga dekat atau kerbat jauh.
8.    Kaji apakah ada seseorang yang dapat memberikan dukungan emosional kepada klien.
9.    Pemeriksaan fisik: melakukan palpasi pada abdomen untuk mengetahui adanya massa dalam lambung.
10.  Kaji adanya ansietas dan tanyakan apa yang menyebabkan ansietas pada klien.

B.    Diagnosa keperawatan
1.    Nyeri b.d. iritasi mukosa esofagus, respons pembedahan.
2.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. intake makanan tidak adekuat.
3.    Ansietas b.d penyakitnya, perubahan pada status kesehatan/sosioekonomi, fungsi peran, pola interaksi, ancaman kematian dan pengobatan.
4.    Kurang pengetahuan tentang gangguan lambung, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan medik, intervensi bedah dan rehabilitasi.

C.   Rencana keperawatan
1.    Nyeri b.d. iritasi mukosa esofagus, respons pembedahan.
Tujuan : dalam waktu 7 x 24 jam pascabedah, nyeri berkurang atau teradaptasi
HYD : -    Nyeri hilang/terkontrol.
-       Ekspresi wajah klien rileks.
-       Klien dapat istirahat dengan cukup
Intervensi :
1.    Kaji riwayat nyeri: lokasi, frekuensi, durasi dan intensitas (skala 0-10).
R/ identifikasi data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan atau keefektifan intervensi
2.    Istirahatkan pasien pada saat nyeri muncul
R/ istirahat, secara fisiologis akan menurunkan kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme basal.
3.    Ajarkan teknik relaksasi napas dalam pada saat nyeri muncul
R/ meningkatkan asupan oksigen sehingga akan menurunkan nyeri sekunder sehingga akan menurunkan nyeri sekunder dari iskemia intestinal.
4.    Anjurkan duduk tegak selama 1-4 jam setiap selesai makan
R/ untuk mencegah terjadinya refluk
5.    Kolaborasi dalam pemberian analgesik
R/ dapat menurunkan atau menghilangkan nyeri, nyeri merupakan komplikasi yang sering terjadi dari kanker, meskipun respon individu berbeda.

2.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. intake makanan tidak adekuat.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi setelah dilakukan keperawatan
HYD : -    Nafsu makan meningkat
-       Makan habis satu porsi
-       Berat badan bertambah
Intervensi :
1.    Kaji masukan makanan klien setiap hari.
R/ mengidentifikasi status nutrisi klien
2.    Berikan makanan sedikit tapi sering dengan bahan makanan yang tidak bersifat iritatif
R/ untuk mengurangi mual dan muntah.
3.    Hindari makanan terlalu manis, berlemak atau makanan pedas
R/ dapat menjcegah respon mual/muntah.
4.    Ajarkan klien teknik relaksasi, dan latihan sedang sebelum makan.
R/ dapat menurunkan perasaan mual dan meningkatkan masukan oral.
5.    Kolaborasi dalam pemberian antasida
R/ meminimalkan iritasi lambung dan mengurangi resiko ulserasi mukosa

3.     Ansietas b.d penyakitnya, perubahan pada status kesehatan/sosioekonomi, fungsi peran, pola interaksi, ancaman kematian dan pengobatan.
Tujuan : Kecemasan dapat diminimalkan setelah dilakukan tindakan keperawatan
HYD : -  Pasien mampu mengungkapkan perasaannya kepada perawat.
-    Pasien dapat mendemonstrasikan keterampilan
pemecahan masalahnya dan perubahan koping yang digunakan sesuai situasi yang dihadapi.
-    Pasien dapat mencatat penurunan kecemasan/ketakutan dibawah standar.
-    Pasien dapat rileks dan tidur/istirahat dengan baik.
Intervensi:
1.    Kaji pengalaman klien/keluarga sebelumnya dengan kanker
R/ Mengidentifikasi rasa takut dan kesalahan konsep berdasarkan pengalaman dengan kanker.
2.    Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya
R/ klien dapat mengekspresikan rasa takut yang dialaminya.
3.    Berikan lingkungan yang nyaman dan rileks.
R/ membantu klien agar merasa diterima pada kondisi saat ini.
4.    Jelaskan tujuan pengobtan yang dianjurkan, dan kemungkinan efek samping
R/ klien mendapatkan pemahaman tujuan pengobtan kanker.
5.    Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anticemas seperti diazepam.
R/ menurunkan relaksasi dan menurunkan kecemasan.

4.    Kurang pengetahuan tentang gangguan lambung, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan medik, intervensi bedah dan rehabilitasi.
Tujuan : informasi mengenai kanker lambung dapat dipahami setelah dilakukannya tindakan keperawatan
HYD : pemahaman klien tentang penyakitnya dapat meningkat.
Intervensi :
1.    Kaji pemahaman klien/orang terdekat tentang diagnosa dan alternatif pengobatan yang akan dilakukan.
R/ mengidentifikasi pemahaman klien dan menentukan kebutuhan informasi yang diperlukan.
2.    Jelaskan dan diskusikan tentang diagnosa dan alternatif pengobatan/prosedur tindakan serta tujuannya.
R/ klien mendapatkan kejelasan tentang penyakitnya dan alternatifnya pengobatan yang akan dilakukan.
3.    Siapkan secara fisik dan psikologis untuk tes diagnostik dan pengobatan dan kemungkinan tindakan pembedahan.
R/ mengurangi kecemasan klien dan dapat berpartisipasi dalam pengobatan.
4.    Jelaskan beberapa gangguan esofagus dapat timbul sewaktu waktu akibat trauma (luka bakar kimiawi atau perforasi)
R/ agar klien mengetahui kemungkinan yang akan terjadi.
5.    Evaluasi intervensi pengobatan secara terus menerus,dan beri informasi yang cukup pada klien.
R/ untuk mengetahui efek terapi dan klien berpartisipasi dalam perawatan.




DAFTAR PUSTAKA

·         Brunner & Suddarth. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
·         Muttaqin, Arif dan Kumala Sari.(2011). Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika
·         Otto, Shirley E. 2005. Keperawatan Onkologi. Jakarta: EGC
·         Price, Sylvia A. (2006). Patofisiologi . jakarta: EGC
·         Sudoyo, Aru W, dkk. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
·         Suratum, Skep, M.Kep & Lusiana, Skep, M.Kep. (2010). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Gastrointestinal. Jakarta: TIM